Kedelai Impor Melambung, Perajin Tahu Semarang Pilih Bertahan dengan Ukuran Kecil

  • Bagikan
banner 468x60

Kenaikan harga kedelai impor yang signifikan sejak beberapa waktu terakhir telah memberikan dampak besar bagi industri tahu di Kota Semarang, Jawa Tengah. Harga kedelai yang sebelumnya stabil kini melambung, memaksa para perajin tahu untuk mencari cara agar tetap dapat bertahan di tengah situasi yang serba sulit ini. Salah satu solusi yang dipilih adalah dengan mengurangi ukuran tahu yang diproduksi, meskipun langkah ini tidak menghilangkan rasa khawatir yang melanda para pelaku usaha.

Kenaikan Harga Kedelai Impor

Example 300x600

Joko Wiyatno, pemilik usaha Tahu ECO di Semarang, mengungkapkan bahwa harga kedelai impor yang semula berada di angka Rp8.500 per kilogram kini telah mencapai Rp9.700 per kilogram. Kenaikan harga ini sangat terasa setelah Lebaran dan memberi dampak langsung terhadap biaya produksi tahu yang semakin tinggi.

“Setiap hari kami membutuhkan sekitar satu ton kedelai. Jika harga kedelai terus naik seperti ini, kami harus mengurangi ukuran tahu agar tetap bisa menghasilkan produk yang terjangkau oleh konsumen,” kata Joko saat ditemui di rumah produksinya pada Jumat (18/4/2025).

Joko menambahkan bahwa keputusan untuk mengecilkan ukuran tahu terpaksa diambil agar para perajin tahu seperti dirinya tetap bisa menjaga keberlangsungan usaha meski dengan keuntungan yang semakin tipis.

Menghadapi Ketidakpastian Harga

Kondisi ketidakpastian harga kedelai yang terus melonjak menjadi tantangan besar bagi para pelaku usaha tahu. Kenaikan harga kedelai impor ini sangat dipengaruhi oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap Dollar AS serta faktor eksternal lainnya, seperti ketegangan dalam perdagangan internasional. Harga kedelai yang fluktuatif membuat perajin tahu sulit untuk merencanakan produksi jangka panjang.

Joko juga menyoroti bahwa meski harga kedelai lokal lebih murah, kualitasnya belum memadai untuk pembuatan tahu. “Kedelai lokal kualitasnya masih jauh di bawah kedelai impor, apalagi pasokannya pun terbatas. Sulit untuk mendapatkan stok yang cukup untuk memenuhi kebutuhan produksi,” tambah Joko.

Berbagai Upaya Bertahan

Untuk mengatasi lonjakan harga kedelai, Joko mengaku berusaha lebih efisien dalam penggunaan bahan baku, seperti memperkecil ukuran tahu, namun hal ini tetap berisiko mengurangi daya tarik produk di mata konsumen. Ia juga terus berusaha mencari alternatif bahan baku lain yang lebih terjangkau.

Namun, menurutnya, upaya tersebut tidak cukup untuk mengatasi dampak dari kenaikan harga kedelai yang tajam. “Kami harus tetap kreatif untuk menjaga keberlangsungan usaha, tapi kami juga khawatir jika harga kedelai terus meningkat, banyak usaha kecil seperti kami yang akan kesulitan bahkan bisa tutup,” ujarnya.

Harapan kepada Pemerintah

Joko berharap pemerintah bisa turun tangan untuk mengatasi masalah harga kedelai yang terus melonjak. Selain itu, ia juga berharap agar pemerintah bisa mendorong pengembangan kedelai lokal yang lebih berkualitas, sehingga para perajin tahu tidak perlu bergantung sepenuhnya pada kedelai impor.

“Pemerintah harus bisa mengontrol harga kedelai dan meningkatkan kualitas kedelai lokal. Kalau kedelai lokal kualitasnya sudah bisa bersaing, kami tidak akan ragu untuk beralih,” tambahnya.

Kesimpulan

Kenaikan harga kedelai impor yang terus berlanjut memberikan tantangan besar bagi industri tahu rumahan di Semarang. Dengan mengurangi ukuran tahu, perajin tahu seperti Joko Wiyatno berusaha bertahan di tengah ketidakpastian pasar. Meski demikian, untuk mengatasi lonjakan harga yang terus-menerus, dibutuhkan solusi jangka panjang, seperti dukungan terhadap pengembangan kedelai lokal yang lebih berkualitas. Pemerintah diharapkan dapat memberikan intervensi yang diperlukan agar industri tahu tetap dapat bertahan dan berkembang di tengah kondisi ekonomi yang penuh tantangan ini.

Editor: Redaksi
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *