Tinjau Rob Batang, Rizal Bawazier Desak Tanggul Raksasa Masuk Prioritas Prabowo-AHY

  • Bagikan
banner 468x60

Batang, Trending Kabar | Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Rizal Bawazier, datang langsung meninjau parahnya kondisi rob (banjir air laut pasang) di Kelurahan Kasepuhan, Kabupaten Batang. Kunjungan ini dilakukan setelah ratusan hektare sawah di wilayah tersebut hilang, berubah fungsi menjadi rawa asin secara permanen.

Pria yang akrab disapa RB ini menegaskan bahwa penanganan rob Kasepuhan, serta wilayah kritis di sepanjang pesisir utara, tidak bisa lagi ditunda dan membutuhkan intervensi besar dari pemerintah pusat melalui pembangunan Tanggul Laut Pantura atau Tanggul Raksasa.

Example 300x600

Rizal Bawazier menyebutkan bahwa kondisi Batang Barat, Pekalongan, hingga Ulujami Pemalang telah masuk kategori kritis. Ia merasa terpukul melihat lahan pertanian yang sebelumnya menjadi sumber penghidupan ratusan keluarga kini telah menjadi rawa asin, tidak lagi berfungsi sebagai sawah.

“Ini, kalau ya, kita desak terus untuk Tanggul Raksasa atau Tanggul Laut Pantura supaya dapat prioritas,” ujarnya, Jumat (28/11/2025).

Secara spesifik, RB langsung meminta Presiden Prabowo dan Menteri ATR AHY untuk menjadikan proyek Tanggul Raksasa ini sebagai prioritas nasional yang tidak dapat ditawar.

“Tolong lihat di sini, sawah tidak bisa ditanami, Pak Prabowo, Pak AHY, jadikan prioritas, anggarannya besar dan tidak ada yang bisa bantu kami selain pemerintah pusat,” tegasnya.

Menurut RB, ada dua agenda besar yang harus dijalankan secara simultan: pembangunan Tanggul Raksasa sebagai solusi permanen jangka panjang, dan tindakan cepat melalui program aspirasi DPR RI untuk penanganan jangka pendek.

Selain membunuh lahan pertanian, rob harian juga telah mengacaukan mobilitas masyarakat dengan jalan desa yang tenggelam hampir setiap malam. RB mendorong solusi darurat berupa pembangunan talut dan tanggul kecil sembari menunggu proyek besar berjalan.

“Kalau dari PU dibangun sekarang mungkin nanti rusak lagi kalau Tanggul Raksasa belum ada, jadi kita lihat yang urgent dulu,” katanya.

Ia menambahkan akan mendorong kerja sama dengan BUMN untuk membantu percepatan pembangunan tanggul-tanggul atau talut-talut darurat sebagai solusi jangka pendek.

Lurah Kasepuhan, Umar Winanto, menjadi saksi mata runtuhnya sektor pertanian di desanya. Umar melaporkan bahwa dampak rob kini bukan lagi musibah musiman, melainkan siklus air harian yang semakin merangkak ke selatan.

“Kadang tani yang terdampak rob itu sudah kurang lebih 100 hektar yang permanen tidak bisa ditanam, lalu sekitar 30 hektar hanya bisa panen satu kali setahun,” jelas Umar.

Dari total 250 hektare lahan pertanian, lebih dari separuhnya kini mati. Lebih dari 200 petani dilaporkan telah kehilangan mata pencaharian.

Umar menjelaskan, saat air rob naik tengah malam dan baru surut menjelang sore, ketinggian air bisa mencapai selutut dan membuat jalan desa tak terlihat. Yang paling mengkhawatirkan, jarak rob ke permukiman kini tinggal sekitar satu kilometer.

“Sekarang belum sampai ke permukiman, tapi melihat perkembangan lima tahun terakhir, kalau tidak segera ditangani ya akhirnya ke permukiman juga,” ujarnya, merujuk pada desa tetangga, Denasri, yang sudah lebih dulu terendam hingga masuk ke area perumahan.

Warga berharap pemerintah pusat segera merealisasikan pembangunan Tanggul Raksasa, karena tanpa intervensi besar, Kasepuhan terancam kehilangan fungsi permukiman, ekonomi, dan identitasnya.

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *