Kunjungi Semarang, Komisi VI DPR RI Soroti Ketergantungan Impor Bahan Baku Obat

  • Bagikan
Kunjungi Semarang, Komisi VI DPR RI Soroti Ketergantungan Impor Bahan Baku Obat
Anggota Komisi VI DPR RI Rizal Bawazier, saat mengikuti kunjungan kerja spesifik Komisi VI DPR RI ke industri farmasi BUMN di Semarang, Jawa Tengah, Jumat (10/7/2026). Foto: Au/Karisma
banner 468x60

SEMARANG, – Ketergantungan tinggi industri farmasi nasional terhadap pasokan luar negeri menjadi sorotan tajam Komisi VI DPR RI. Masalah kronis ini mencuat di tengah sebagian besar kebutuhan bahan baku obat (BBO) di dalam negeri yang hingga kini masih harus dipenuhi melalui jalur impor, terutama dari Tiongkok dan India.

Hal tersebut menjadi salah satu poin krusial yang dibahas dalam Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VI DPR RI saat meninjau langsung kondisi industri farmasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Semarang, Jawa Tengah, Jumat (10/7/2026).

Example 300x600

Anggota Komisi VI DPR RI, Rizal Bawazier, menyayangkan kondisi ini mengingat Indonesia sebenarnya dianugerahi kekayaan alam dan bahan mentah yang sangat melimpah. Menurutnya, kekayaan tersebut semestinya bisa diolah secara mandiri di dalam negeri jika didukung dengan infrastruktur teknologi dan industri yang memadai.

“Sebenarnya kalau bahan mentahnya, itu banyak di Indonesia. Cuman untuk memproses jadi bahan baku, kita rata-rata impor dari Cina, India. Kan sayang,” ungkap Rizal usai meninjau fasilitas farmasi BUMN tersebut.

Butuh Komitmen Investasi dan Perubahan Target BUMN

Untuk memutus rantai ketergantungan impor yang sudah berlangsung lama ini, politisi Fraksi PKS tersebut menegaskan perlunya perubahan paradigma dalam mengelola BUMN farmasi. Ia meminta pemerintah tidak lagi membebani holding farmasi seperti Bio Farma dengan target keuntungan finansial jangka pendek semata, melainkan fokus pada misi ketahanan kesehatan nasional.

“Dalam perusahaan-perusahaan BUMN banyak sekali, untuk Bio Farma ini jangan ditargetkan profit. Tapi yang penting adalah bagaimana kita bisa membuat bahan baku sendiri gitu,” jelasnya.

Rizal menilai langkah awal yang dirintis oleh Kimia Farma dalam membangun fasilitas produksi BBO patut diapresiasi. Namun, melihat skala kebutuhan nasional yang sangat besar, kapasitas yang ada saat ini dinilai masih jauh dari kata cukup.

Oleh karena itu, Komisi VI DPR RI mendorong adanya penguatan investasi yang masif dan berkelanjutan, salah satunya melalui optimalisasi peran Danantara dan sinergi dengan Kementerian BUMN. Investasi besar diperlukan untuk mendirikan lebih banyak pabrik pengolahan bahan baku obat di tanah air.

“Jangan khawatir memberikan investasi yang besar untuk pabrik bahan baku obat. Kalau baru satu, kalau perlu lima kita bikin. Jadi Indonesia itu jadi nggak banyak impor,” pungkas Rizal optimis.

Penulis: Hersa NSEditor: Redaksi
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *