Jakarta, – Anggota Komisi VI DPR RI, Rizal Bawazier, melontarkan sindiran tajam terhadap masifnya anggaran proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Senayan, Senin (7/7), ia menegaskan bahwa dana triliunan rupiah seharusnya dialihkan untuk proyek yang lebih mendesak: pembangunan tanggul rob di Pekalongan dan Pemalang, daerah pemilihannya yang kini terancam tenggelam hingga 2,3 meter.
Dengan nada tinggi, Rizal mengungkapkan kegelisahan mendalam masyarakat pesisir di dapilnya, Jawa Tengah X. “Terus terang Pak Menteri, di dapil kami, Pekalongan, Pemalang Ulujami banjir rob tinggal satu meter lagi,” ujarnya. Ia memperingatkan bahwa jika tidak ada penanganan cepat, Ulujami dan sebagian wilayah pesisir lainnya di Pemalang bisa benar-benar lenyap ditelan rob pada tahun 2026.
Menurut Rizal, ancaman rob di Pantura bukanlah masalah sepele yang bisa dianggap angin lalu. Justru, masalah ini jauh lebih genting daripada proyek-proyek prestisius yang menghabiskan anggaran fantastis. Ia secara blak-blakan menyoroti proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung yang menelan Rp140 triliun. Baginya, angka tersebut sangat kontras dengan kebutuhan nyata masyarakat yang terancam kehilangan tempat tinggal dan mata pencarian.
“Kalau rob datang, air laut lebih tinggi dari daratan. Ini bukan soal macet atau kecepatan kereta, ini soal hidup atau tenggelam,” tegas Rizal, membandingkan urgensi ketersediaan transportasi cepat dengan ancaman eksistensial bagi ribuan warga. Ia menekankan bahwa prioritas pembangunan seharusnya bergeser dari kemewahan infrastruktur ke penyelamatan nyawa dan kota.
Melihat kondisi darurat ini, Rizal mendesak pemerintah untuk memasukkan pembangunan tanggul laut di Pekalongan ke dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN). Dengan begitu, proyek vital ini akan segera mendapatkan alokasi anggaran dan perhatian khusus. “Jakarta punya tanggul yang megah. Pekalongan belum punya. Kalau rob datang, banjirnya bukan surut dalam hitungan jam, bisa berhari-hari,” keluhnya.
Politisi PKS ini juga mengungkapkan bahwa pembangunan tanggul rob tidak akan menguras anggaran negara secara berlebihan, sebab hanya membutuhkan dana sekitar Rp1 triliun. Sebuah angka yang jauh lebih kecil dibandingkan mega proyek lainnya, namun memiliki dampak penyelamatan yang jauh lebih besar. “Kalau ini ditangani, kita bisa selamatkan Kota kami Pekalongan, dan Pemalang daerah sekitarnya,” imbuhnya.
RB, sapaan akrab Rizal, juga mengkritik lambatnya progres proyek tanggul laut nasional yang direncanakan membentang dari Jakarta hingga Gresik. Ia merasa kecepatan pengerjaan tidak sebanding dengan laju air rob yang semakin agresif.
“Warga sudah banyak yang jadi korban, rumahnya rusak, ekonominya terhenti, dan air rob terus naik,” ujarnya dengan mimik prihatin. Rizal menyebut bahwa rob bukan sekadar bencana alam biasa, melainkan “bom waktu yang bisa menenggelamkan sejarah, ekonomi, dan masa depan kota.”
“Mohon Pak Menteri, proyek ini masuk PSN dan bisa segera dimulai. Ini kebutuhan hidup masyarakat pesisir,” pungkasnya, menandaskan bahwa ini adalah seruan untuk menyelamatkan peradaban di pesisir utara Jawa dari ancaman yang kian nyata.









