Dalam dunia olahraga modern, nama atlet sering kali menjadi entitas bisnis yang lebih besar daripada klub itu sendiri. Fenomena inilah yang ingin dieksploitasi oleh Marc Ciria, calon presiden Barcelona, dalam upayanya memulangkan Lionel Messi pada tahun 2026. Ciria tidak hanya menawarkan reuni emosional, melainkan sebuah restrukturisasi finansial yang ia sebut sebagai “Efek Jordan-Nike”.
Belajar dari Kesuksesan Michael Jordan
Analogi yang dibawa Ciria merujuk pada kolaborasi abadi antara Michael Jordan dan Nike. Meskipun Jordan telah pensiun puluhan tahun lalu, merek “Air Jordan” tetap menyumbangkan miliaran dolar bagi Nike setiap tahunnya.
Ciria berargumen bahwa Barcelona telah gagal memaksimalkan potensi komersial Messi selama dua dekade terakhir. Strateginya adalah:
-
Kemitraan Seumur Hidup: Menjadikan Messi sebagai wajah global klub bahkan setelah ia gantung sepatu.
-
Lini Produk Eksklusif: Menciptakan sub-brand di bawah naungan Barcelona yang terasosiasi langsung dengan identitas Messi.
-
Pembagian Keuntungan (Revenue Sharing): Alih-alih hanya membayar gaji tetap yang membebani neraca, klub akan berbagi keuntungan dari pendapatan komersial yang dihasilkan langsung oleh pengaruh Messi.
Solusi di Tengah Krisis Utang
Barcelona saat ini masih bergelut dengan batasan gaji (salary cap) La Liga dan utang renovasi stadion. Ciria percaya bahwa kehadiran Messi di Camp Nou yang baru akan menjadi magnet bagi investor dan sponsor kakap yang saat ini masih ragu.
“Kami ingin menghasilkan uang bersama legenda kami, bukan hanya menjadikannya beban gaji,” tegas Ciria.
Dengan membawa Messi kembali, nilai hak siar, harga tiket di stadion baru, hingga nilai kontrak sponsor utama diperkirakan akan melonjak drastis, memberikan napas baru bagi kas klub yang kering.
Tantangan Performa di Usia Senja
Meskipun Messi telah berusia 38 tahun (pada 2026), statistiknya di Inter Miami tetap fenomenal dengan raihan 29 gol, 19 assist, dan dua gelar MVP MLS berturut-turut. Hal ini membuktikan bahwa secara teknis, Messi masih mampu bersaing di level tertinggi, sekaligus mempertahankan daya tarik komersialnya di mata dunia.
Namun, tantangan terbesar Ciria adalah durasi kontrak Messi di Miami yang mencapai tahun 2028. Ciria harus mampu meyakinkan sang pemain dan pihak Inter Miami bahwa transisi menuju peran “Duta-Pemain” di Barcelona adalah langkah terbaik bagi warisan sejarah (legacy) sang pemain.
Jika Joan Laporta fokus pada pembangunan fisik stadion dan pemotongan biaya, Marc Ciria menawarkan revolusi identitas. Strategi “Jordan-Nike” ini bisa menjadi cetak biru baru bagi klub-klub besar dunia dalam mengelola legenda mereka—bukan sebagai masa lalu yang mahal, melainkan sebagai masa depan yang menguntungkan.










